Oleh : Dr. Iswandi Syahputra, M.Si
Komisioner KPI Pusat/Dosen Ilmu Komunukiasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Komisioner KPI Pusat/Dosen Ilmu Komunukiasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Industri Televisi merupakan salah satu industri yang mengalami perkembangan pesat di tanah air ini. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya jumlah stasiun televisi yang berada di Indonesia. Data terakhir per Juni 2011 menunjukkan sebanyak Jumlah stasiun TV lokal yang telah bersiaran 119, dimana 105 diantaranya adalah stasiun TV lokal yang telah mendapat IPP Prinsip. Sedangkan 14 lainnya adalah Stasiun TV lokal yang telah mendapat IPP Existing. Jumlah pemohon TV swasta sampai Juli 2010 adalah 93 Pemohon yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
Dengan ketatnya persaingan tersebut, berbagai cara sepertinya dihalalkan untuk dapat saling berebut mendapatkan “perhatian” dari para peminat televisi, yakni pemirsa yang senantiasa duduk manis di depan televisi sambil menonton program acara pilihan masing-masing. Bisa dikatakan televisi termasuk dalam anggota keluarga yang eksis namun tidak tercatat secara resmi dalam kartu keluarga. Bagaimana tidak, setiap hari televisi selalu nyala menemani anda sekalian melakukan rutinitas setiap hari, mulai dari masak, mengerjakan pr, bersantai, membersihkan rumah, dan lainnya. Masyarakat sekarang tak bisa lepas dari satu benda tersebut, mungkin hidup terasa hambar tanpa adanya televisi. Pertumbuhan stasiun TV sangat pesat karena secara umum saat ini dunia berada dalam era teknologi informasi/komunikasi. Secara khusus, di Indonesia hal itu terjadi karena ;
• Pasar penonton yang menjanjikan
• Cakupan wilayah yang luas
• Maraknya pertumbuhan PH (250-an)
• Pola menonton masyarakat yang tidak sehat (Heavy Viewer)
Kondisi ini menimbulkan persaingan yang juga tidak sehat antara stasiun televisi, mereka menjadi berlomba-lomba untuk menyajikan informasi, baik berita hiburan ataupun lainnya, kepada masyarakat yang notabene adalah penikmat televisi tersebut. Rating menjadi (Pengertian yang lebih mudah, rating adalah jumlah orang yang menonton suatu program televisi terhadap populasi televisi yang di persentasekan) rujukan utama produksi program televisi. Implikasinya adalah, isi (program) tayangan televisi yang nyaris seragam.
Masalahnya, apakah televisi sekarang bisa dibilang telah menyajikan tayangan berkualitas bagi pemirsanya? Kebanyakkan masih memperdulikan tingginya rating dari berbagai program acara yang ada di stasiun mereka, tanpa memperhatikan kualitas dari program acara tersebut. sehingga banyak ditemui tayangan dengan rating yang tinggi namun kualitas rendah maupun sebaliknya. Contoh tayangan dengan rating tinggi tapi kualitas rendah ;
• Putri yang di Tukar (RCTI)
• Uya Emang Kuya (SCTV)
• OVJ (Trans 7)
Sedangkan Contoh tayangan dengan kualitas tinggi tapi rating rendah antara lain seperti :
• Kick Andy (Metro TV)
• Oasis (Metro TV)
• Dunia Binatang (Trans 7)
Selain mempermasalahkan rating acara, tak jarang banyak acara yang juga seharusnya mendapatkan banyak “sensor” akibat kualitas acara mereka. Bisa dibilang kualitas acara masih minim dan berkesan tidak mendidik.
Belum lagi ditambah dengan adanya agenda setting yang dijalankan oleh masing-masing stasiun televisi tersebut, baik demi kepentingan bisnis maupun orang yang berkuasa dibaliknya. Media televisi dapat dijadikan sebagai suatu alat propaganda oleh pemilik demi mencapai keuntungan ataupun tujuan tertentu. Selain itu KPI sebagai lembaga pengawas seharusnya bisa berperan lebih aktif dalam mencegah penyalahgunaan maupun hal-hal tidak mengenakkan yang terdapat di televisi. Isi dari berbagai stasiun televisi haruslah bisa mendidik dengan berbagai cara, tidak hanya memberikan acara humor tidak bermutu yang hanya menunjukkan kekerasan maupun saru didalamnya.
Sekian share dari saya, silakan komen ataupun kritik dan saran yah :D
Tulisannya terlalu kecil teman
ReplyDelete