Thursday, September 15, 2011

Perempuan dalam Komunikasi

Sosok perempuan dalam media massa kian hari semakin terlihat dalam berbagai bentuk. Entah sebagai pemanis, jagoan, hiasan, role-model, dll. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sejumlah profesi dengan pelaku wanita banyak ditampilkan di berbagai media massa. Bisa jadi sebagai bintang iklan, pemain sinetron, pembawa berita, bintang tamu dan lainnya.

Hal tersebut berkaitan juga dengan peran perempuan dalam komunikasi, dimana media massa merupakan salah satu saluran komunikasi yang besar karena memiliki cakupan audiens yang banyak dan tersebar di berbagai tempat. Bila kita melihat peran perempuan dalam komunikasi, ada baiknya kita melakukan kilas balik sebentar ke masa lalu dan melihat ”kondisi” perempuan pada saat itu.

Jaman dahulu (entah jaman nenek-kakek kita, atau lebih) perempuan merupakan sosok yang terkesan ”kelas-dua”. Pada masa itu mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, mengurus anak dan suami, patuh terhadap pria, serta tidak boleh mengungkapkan pendapat mereka. Apakah mereka mengenyam pendidikan? Oh, sama sekali tidak! Kalaupun ada, pasti hanya sebentar dan sedikit sekali. Hak mereka juga tidak dipedulikan, karena mereka dianggap sebagai kaum yang ”nerimo-saja” (sedikit jawa :p)

Namun seiring berjalannya waktu, muncul sosok revolusioner yang mengubah persepsi tersebut, tak lain dan tak bukan R.A Kartini. Beliau merupakan pioner yang membuka banyak kesempatan terhadap wanita, dimana hak-hak mereka menjadi lebih diperhatikan, seperti memperoleh pendidikan, mengungkapkan suara, dll. Mulai dari situ perempuan, perlahan namun pasti, mulai merangkak naik dan disejajarkan dengan pria. Tidak ada lagi yang namanya istilah ”warga kelas dua” bagi mereka.

Berangkat dari situ, sosok perempuan ”sakti” kini mulai banyak bermunculan. Keberhasilan mereka di berbagai bidang menjadi buah bibir di berbagai kalangan terkait yang kemudian di angkat ke permukaan berbagai media. Tak lain untuk menunjukkan bahwa perempuan kini memang sosok yang hebat dan pantas mendapat sanjungan atas hasil kerja keras mereka.

Nah, apa hubungannya dengan komunikasi dan citra perempuan di media massa?

Sejak kecil perempuan merupakan sosok yang katanya “terbiasa berkomunikasi”, karena mereka memiliki “kebebasan” untuk lebih banyak berbicara serta mengungkapkan pendapat kepada orang lain. Tak percaya? Coba saja lihat dari contoh yang paling simpel. Ketika anak kecil perempuan terjatuh dan menangis, orang tua mereka pasti berkata,”Cup cup sayang, nggak apa-apa kok. Sudah2, jangan nangis lagi, ...” dan seterusnya. Masih tak mengerti? Perempuan diperbolehkan untuk mengeluarkan emosinya, dimana hal tersebut merupakan salah satu bentuk komunikasi paling dasar yang dilakukan oleh manusia. Sedangkan anak laki-laki? Paling-paling hanya mendapat ,”udah diam, kamu anak laki-laki, jangan cengeng!”
Karena terbiasa seperti itu, maka pria cenderung lebih rapat dalam menyimpan emosi mereka, yang menyebabkan mereka memiliki kesusahan dalam mengungkapkan perasaan ataupun pendapat mereka. Karena mendapat perlakuan demikian, perempuan dikatakan sebagai sosok yang “mudah berkomunikasi”, “negosiator yang baik”, atau bisa juga “bermulut manis” (yah agak negatif sih). Namun apapun istilah atau sebutannya, perempuan memang mahluk yang komunikatif dibandingkan pria.
Bagi anda yang bertanya, apa hubungannya dengan media massa? Tentu saja ada!!

Perempuan sebagai komunikator di media massa ditunjukkan dalam berbagai bentuk, sosok serta profesi yang berbeda-beda. Mulai dari jurnalis, pembawa berita, penyanyi, artis, bintang iklan, pemain sinetron, mc, penyiar radio, dll. Namun semua hal tersebut memiliki benang merah yaitu sebagai sosok komunikator! Mereka mengkomunikasikan banyak hal kepada audiens dalam bentuk serta sifat yang berbeda-beda, tergantung dari pesan apa yang dibawakan oleh mereka.
Bicara mengenai sifat, sayangnya kehadiran perempuan di media massa tentu saja memiliki pro dan kontra nya sendiri. Bentuk kehadiran perempuan di media massa, sayangnya, masih diasosiasikan dengan citra yang negatif serta positif juga.

Berkaitan dengan image negatif yang ada (semisal : sebagai pemanis acara, objek sensual, dll) hal tersebut menurut saya sangatlah disayangkan. Hal tersebut telah lama menjadi suatu stereotipe di kalangan tertentu yang sama sekali tidak benar. Perempuan di media massa memiliki peranan masing-masing yang apabila dihayati dengan baik dapat membawa makna positif bagi audiens penikmat media masing-masing.

Oleh sebab itu, ada baiknya stereotipe negatif mengenai perempuan itu dipatahkan, mengingat sosok perempuan merupakan salah satu peranan penting, tidak hanya dalam media massa melainkan dalam banyak hal atau aspek lainnya juga.


Nb : got comment? Feel free to shout it :) penulis menerima byk kritik dan saran slama hal tersebut memang membangun


No comments:

Post a Comment